Kamis, 24 Maret 2016

AIR DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN (HARI AIR SEDUNIA)

Air adalah kunci dari pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development). Peran air ini yang kemudian diangkat menjadi tema Hari Air Sedunia 2015, “Water and Sustainable Development“, Air dan Pembangunan Berkelanjutan. Air mempunyai peran sentral dalam pengentasan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, hingga kelestarian lingkungan. Air memberikan kontribusi dalam ketahanan pangan dan energi, kesehatan masyarakat dan lingkungan, serta mata pencarian penduduk bumi. Sehingga peran air dalam pembangunan berkelanjutan tak terbantahkan.
Di tahun 2015, UN Water menetapkan “Water and Sustainable Development“, Air dan Pembangunan Berkelanjutan sebagai tema peringatan Hari Air Sedunia. Ini mengingat air memiliki peran yang penting dalam agenda pembangunan berkelanjutan. Air terkait dengan semua aspek yang dibutuhkan untuk menciptakan masa depan yang diinginkan.

Air dan Pembangunan Berkelanjutan
Air Adalah Kesehatan; Tangan yang bersih dapat menyelamatkan hidup Anda
Di bidang kesehatan air memegang peranan penting. Manusia dapat bertahan berminggu-minggu tanpa makanan, namun hanya mampu bertahan beberapa hari saja tanpa air. Mencuci tangan menjadi solusi terbaik untuk menghilangkan kuman dan mencegah penyebarannya ke orang lain. Setiap hari, setiap orang membutuhkan air untuk minum, memasak, dan membersihkan diri. Air dan kesehatan menjadi komponen penentu pembangunan berkelanjutan.
Air adalah Alam; Ekosistem terletak di jantung siklus air global.
Ekosistem (seperti hutan, lahan basah, dan padang rumput), terletak di jantung siklus air global. Dan air tawar sangat bergantung pada sehatnya ekosistem yang menunjang siklus air sehingga air menjadi sumber daya yang berkelanjutan. Namun air telah mengalami banyak tekanan akibat pembangunan, mengalami pencemaran air, dan penurunan kualitas. Penurunan kualitas air berpengaruh terhadap kualitas lingkungan. Pun sebaliknya kualitas lingkungan akan mempengaruhi kualitas air. Air dan alam menjadi komponen penentu pembangunan berkelanjutan.
Air adalah Urbanisasi; Setiap minggu, satu juta orang pindah ke kota-kota.
Separo penduduk bumi tinggal di kota. Sedang tingkat pertumbuhan kota sangat pesat. Pertumbuhan ini terutama dipicu oleh urbanisasi. Pengelolaan daerah perkotaan telah menjadi salah satu tantangan pembangunan yang paling penting. Untuk itu dibutuhkan infrastuktur air (baik air tawar maupun air limbah) yang memadai di setiap kota.
Air adalah Industri; Lebih banyak air yang digunakan untuk memproduksi mobil daripada untuk mengisi kolam renang.
Bidang industri membutuhkan air yang tidak sedikit. Sebagai contoh, untuk membuat selembar kertas dibutuhkan hingga 10 liter air dan dibutuhkan hingga 90 liter air untuk memproduksi 500 gram plastik. Kegiatan industri pun menghasilkan limbah air yang tidak sedikit.
Air adalah Energi; Air dan energi tidak dapat dipisahkan.
Air diperlukan untuk menghasilkan energi. Sebaliknya, energi dibutuhkan untuk menghasilkan air. Lebih dari 80% listrik di dunia dihasilkan dari pembangkit listrik tenaga uap. Ini membutuhkan miliaran galon air untuk dijadikan uap penggerak turbin dan pendingin. Diperlukan berbagai sumber energi alternatif maupun energi terbarukan (energi surya, energi pasang surut, energi angin, dll) untuk mengurangi tekanan pada sumber daya air tawar.
Air adalah Makanan; Untuk menghasilkan dua steak dibutuhkan 15 000 liter air.
Secara global, sektor pertanian merupakan pengguna air terbesar. Di samping itu, pertumbuhan ekonomi telah merubah gaya hidup di bidang makanan. Semakin banyak yang berpindah mengkonsumsi roti dan susu. Padahal keduanya membutuhkan air hingga empat kali lebih banyak dibandingkan makanan berbahan beras. Jika produksi 1 kg beras ‘hanya’ membutuhkan 3.500 liter air, 1 kg daging sapi membutuhkan hingga 15.000 liter air. Baca :Ketahanan Air dan Pangan di Indonesia
Air adalah Kesetaraan; Setiap hari wanita menghabiskan 200 juta jam membawa air.
Terutama di negara-negara berkembang, wanita dan anak-anak menghabiskan hingga seperempat waktunya perhari hanya untuk menyediakan air bagi keluarganya. Sangat banyak waktu yang terbuang tanpa bekerja, mengurus keluarga, dan bersekolah. Fakta ini menunjukkan bahwa investasi di bidang air dan sanitasi dapat memberikan dampak perekonomian yang besar.
Berbagai tuntutan terhadap pemenuhan air tersebut, menjadi tantangan besar bagi pengelolaan sumber daya air. Belum lagi ditambah dengan berbagai tekanan sebagai akibat pemanasan global. Sehingga tidak dapat dipungkiri jika air memegang peranan kunci berlangsungnya pembangunan berkelanjutan.
Sumber :http://alamendah.org/2015/03/08/air-dan-pembangunan-berkelanjutan-hari-air-2015/

 21MARET, SELAMAT HARI KEHUTANAN SEDUNIA
Memperingati Hari Kehutanan Sedunia bisa Anda lakukan dengan cara paling sederhana: tidak menggunakan produk kayu selama sehari.

Ilustrasi hutan Sumatra. (Thinkstockphoto)
Apa jadinya dunia tanpa hutan? Bumi menjadi kering, air tidak mengalir, cuaca panas, dan tidak ada kerajinan indah yang dihasilkan tangan manusia dari hutan.
Hutan menutup sekitar sepertiga permukaan Bumi dan menjadi rumah bagi dua pertiga spesies darat di seluruh dunia. Maka itu wajar jika kemudian hutan disebut sebagai gudangnya keanekaragaman hayati bagi planet Bumi.
Terdorong oleh arti penting hutan, European Confederation of Agriculture mendukung terciptanya Hari Kehutanan Sedunia pada November 1971. Peringatan ini selanjutnya dilakukan tiap tanggal 21 Maret setiap tahunnya.
Dilansir dari situs resmi Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Amerika Serikat memperingatinya dengan cara menjalani satu pekan aktivitas dan perayaan yang menekankan arti penting hutan bagi manusia. Negeri tetangga, Australia, meluncurkan kampanye berupa pembagian booklet mengenai hutan secara gratis.
Lanskap Danau Tamblingan di Bali yang terlindungi tutupan vegetasi lebat. (thinkstockphoto)
Bagaimana dengan Indonesia? Dua pejabat Kementerian Kehutanan yang diwawancara National Geographic Indonesia menyatakan tidak ada seremoni besar untuk merayakannya.
Namun dikatakan Direktur Perencanaan Kawasan Kehutanan Kemenhut Basoeki Karyaatmadja, secara umum, kesadaran masyarakat Indonesia mengenai hutan semakin meningkat.
Secara keseluruhan, kerusakan hutan juga mulai menurun."Dulu, tahun 2000-an kerusakan hutan masih sekitar dua juta hektare per tahun. Sekarang hanya sekitar 450 ribu hektare per tahunnya," ujar Basoeki yang menambahkan data tersebut berdasarkan pantauan satelit.
Ditambahkan Basoeki, perencanaan tata hutan Indonesia sudah dilakukan jangka panjang hingga tahun 2030. Tiap tahunnya, akan ada agenda utama untuk merehabilitasi hutan.
Menurut Hargyono, Kepala Subdit Penilaian Kinerja Industri dan Pemasaran Hasil Hutan di Kemenhut, hutan dan industri tidak bisa dipisahkan. Untuk menjaga keberlanjutannya, konsumen juga harus memperhatikan asal suatu produk kayu --legal atau tidak.
"Dengan demikian, akan membantu kelestrian hutan juga," kata Hargyono saat ditemui dalam "TBI - APHI 6th Signing Event: Combined Certification for Legality (SVLK) and Sustainability (PHPL-FSC) in Natural Forest Management in Indonesia," di Jakarta, Rabu (20/3).


Sumber:http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/03/21-maret-selamat-hari-kehutanan-sedunia
By. Weny Setiani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar